Saudaraku yang dirahmati Allah,
KERINDUAN itu selalu ada dalam diri kita, pada apa saja. Karena ia adalah harapan, cita-cita,dan impian kita untuk memperoleh atau meraih sesuatu yang baik. Akan tetapi, tidak selamanya kerinduan itu berujung pada keberhasilan yang memberi manfaat, karena seringkali kita menambatkan kerindua itu pada sesuatu yang salah, pada alamat-alamat yang keliru. Sehingga bukan MASLAHAT yang kita dapat, tetapi MAFSADAT yang kita tuai.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam diri kita selalu muncul kerinduan-kerinduan itu, pada sesuatu yang sesungguhnya sangat menentukan jalan hidup kita. Tetapi ia seringkali tak tercapai karena dialamatkan pada sasaran yang salah.
KERINDUAN pada PAHLAWAN dan FIGUR yang Salah Alamat ^_^
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Pada situasi tertentu terkadang kita mendambakan hadirnya seseorang yang mampu memberi kita rasa aman, perlindungan, dan harapan untuk sebuah keadaan yang lebih baik. Di tengah banyaknya permasalahan pribadi, permasalahan umat, dan di tengah situasi negeri kita yang tidak menentu, sebenarnya kita begitu merindukan pahlawan, mendambakan figur yang membimbing, memberi contoh, dan rasa aman. Sayangnya, kerinduan itu sering sekali tidak menemukan sasarannya.
Saudaraku fillah......Iironisnya, kerinduan yang salah alamat itu sering pula diperankan oleh diri kita, orang-orang dewasa yang seharusnya lebih mampu menggunakan akal dan pikiran secara baik. Kita terkadang terlalu memuji seseorang, mengagungkan, bahkan mengkultuskannya, dengan alasan-alasan yang tidak ilmiah, sehingga menutup mata kita sendiri bahwa sebenarnay orang yang kita tuju itu tidak mampu membawa kita kemana-mana. Kita terlena dengan tampilan fisik, logika-logika yang memukau, sehingga melupakan isi. Kita bahkan tidak pernah berani untuk jujur pada realita, bahwa ada sosok yang seolah menikmati segala pujian dan sanjungan orang lain pada dirinya, merasa mendapatkan dukungan yang kuat, padahal sesungguhnya dia tidak memiliki kekuatan apa-apa, kecuali PUJIAN itu sendiri. Tetapi, kepadanya KERINDUAN itu selalu kita arahkan seolah kita tidak lagi punya alternatif yang lain.Inilah KERINDUAN yang SALAH ALAMAT itu. Wallahu’alam bishowab. Semoga kita bisa membekali KERINDUAN dengan ILMU dan ORIENTASI YANG BENAR. Amin. (Sulthan Hadi, Tarbawi)
Minggu, Oktober 19, 2008
Jangan SPEKULASI IMAN.. !!!
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Bagaimana kabar kalian pasca Ramadhan?
Apakah setelah Idul Fitri seolah-olah terjadi EUFORIA kebebasan dan kebablasan kembali pada diri kita??
Terkadang pasca Ramadhan dan Idul Fitri kita merasa bahwa diri kita kembali fitrah, laksana lembaran kertas putih yang bersih tanpa coretan.Sering sekali kita lalai, kembali disibukkan dengan kefasika-kefasikan dan hal-hal yang melenakan. Padahal saat itulah tugas berat menunggu, yaitu bagaimana kemudian kita mengisi lembaran kertas putih itu dengan AMALAN-AMALAN, kemudian menjaganya dengan IMAN, dan juga gangguan dari KENIKMATAN-KENIKMATAN DUNIAWI.
”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS Al An’am :44)
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Sesungguhnya antara ramadhan satu ke ramadhan berikutnya, disitulah ujian-ujian harus dihadapi dengan UJIAN YANG LEBIH DAHSYAT, karena syetan telah kembali dilepas dan manusia-manusia fasikpun kembali membuka ladang-ladang kemaksiatan. So... Pasca Ramadhan, JANGAN MELAKUKAN SPEKULASI IMAN dengan bergabung dan terlenakan oleh hal-hal yang melenakan tadi. Berusahalah untuk tetap berada dalam lingkungan yang kondusif untuk menjaga keimanan kita. Wallahu’alam bishowab.
Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kekuatan untuk ISTIQOMAH dalam diri kita. n_n
Bagaimana kabar kalian pasca Ramadhan?
Apakah setelah Idul Fitri seolah-olah terjadi EUFORIA kebebasan dan kebablasan kembali pada diri kita??
Terkadang pasca Ramadhan dan Idul Fitri kita merasa bahwa diri kita kembali fitrah, laksana lembaran kertas putih yang bersih tanpa coretan.Sering sekali kita lalai, kembali disibukkan dengan kefasika-kefasikan dan hal-hal yang melenakan. Padahal saat itulah tugas berat menunggu, yaitu bagaimana kemudian kita mengisi lembaran kertas putih itu dengan AMALAN-AMALAN, kemudian menjaganya dengan IMAN, dan juga gangguan dari KENIKMATAN-KENIKMATAN DUNIAWI.
”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS Al An’am :44)
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Sesungguhnya antara ramadhan satu ke ramadhan berikutnya, disitulah ujian-ujian harus dihadapi dengan UJIAN YANG LEBIH DAHSYAT, karena syetan telah kembali dilepas dan manusia-manusia fasikpun kembali membuka ladang-ladang kemaksiatan. So... Pasca Ramadhan, JANGAN MELAKUKAN SPEKULASI IMAN dengan bergabung dan terlenakan oleh hal-hal yang melenakan tadi. Berusahalah untuk tetap berada dalam lingkungan yang kondusif untuk menjaga keimanan kita. Wallahu’alam bishowab.
Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kekuatan untuk ISTIQOMAH dalam diri kita. n_n
HATIKU HATIMU HATI-HATI.....!!!
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah.Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah HATI. “ (H.R. Bukhari dan Muslim)
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Menjaga hati adalah pekerjaan yang tidak mudah. Lebih mudah menjaga singa dalam kandang daripada menjaga dalam diri. Hal ini dikarenakan sifat hati yang senantiasa berubah. Hari ini ia baik, mungkin besok pagi, bahkan nanti sore sudah berubah menjadi jahat. Hari ini ia dermawan, besok bisa kikir. Oleh karena itu kita diajarkan untuk berdoa, “Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ala diinik.”
Saudaraku yang dirahmati Allah,
HATI ibarat RAJA, sementara seluruh panca indera adalah pasukannya. Jikalau hati, sebagai raja memerintah dengan baik, maka seluruh panca indera yang merupakan bala tentaranya akanmengarah pada kebaikan. Sebaliknya jika hati rusak maka seluruh panca indera pun akan berbuat kerusakan, dari mata, telinga, tangan, dan juga lisan pun akan ikut rusak.
”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah HATI yang ada di dalam dada. ” (Q.S. Al Hajj: 46)
So......., hatiku hatimu hati-hati !!!! n_n
Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan untuk menjaganya.
(terinspirasi dari bukunya Akhina Fadlan Al-Ikhwani, syukron katsiir)
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Menjaga hati adalah pekerjaan yang tidak mudah. Lebih mudah menjaga singa dalam kandang daripada menjaga dalam diri. Hal ini dikarenakan sifat hati yang senantiasa berubah. Hari ini ia baik, mungkin besok pagi, bahkan nanti sore sudah berubah menjadi jahat. Hari ini ia dermawan, besok bisa kikir. Oleh karena itu kita diajarkan untuk berdoa, “Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ala diinik.”
Saudaraku yang dirahmati Allah,
HATI ibarat RAJA, sementara seluruh panca indera adalah pasukannya. Jikalau hati, sebagai raja memerintah dengan baik, maka seluruh panca indera yang merupakan bala tentaranya akanmengarah pada kebaikan. Sebaliknya jika hati rusak maka seluruh panca indera pun akan berbuat kerusakan, dari mata, telinga, tangan, dan juga lisan pun akan ikut rusak.
”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah HATI yang ada di dalam dada. ” (Q.S. Al Hajj: 46)
So......., hatiku hatimu hati-hati !!!! n_n
Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan untuk menjaganya.
(terinspirasi dari bukunya Akhina Fadlan Al-Ikhwani, syukron katsiir)
Rabu, September 24, 2008
Bila Al-Quran Berbicara !

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku, Dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari, Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari, Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra.
Sekarang engkau telah dewasa...
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku, Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah, Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya. Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu. Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa, Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan. Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian. Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman. Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....,Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV.
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia. Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa. Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...
Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku (Basmalah). Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi, Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu. Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu. Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku.
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja, Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu, Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun, E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan, Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu, Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku.
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV, Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga. Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk, Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah. Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari, Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu. Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali Itupun hanya beberapa lembar dariku, Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu, Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ?
Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba, Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya, Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.
Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati.........................
Di kuburmu nanti.....................
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan, Yang akan membantu engkau membela diri, Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu, Dari perjalanan di alam akhirat. Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu, Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu.
Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari.....
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci.....
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui.....
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.....
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu.....
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu.....
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu.....
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu.....
Sentuhilah aku kembali.....
Baca dan pelajari lagi aku.....
Setiap datangnya pagi dan sore hari.....
Seperti dulu....dulu sekali.....
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos.....
Di surau kecil kampungmu yang damai Jangan aku engkau biarkan sendiri.....
Dalam bisu dan sepi.....
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi. Mahabijaksana.
Semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)
